Untuk Saya, terakhir

Sebuah cerpen


Ini masih tentangmu. Saat saya bilang, saya ingin jujur tentang perasaan saya padamu maka saya tidak akan bisa berhenti jujur. Saya pikir saya sudah cukup jujur dan jelas mengenai perasaan saya padamu. Tapi dari yang saya lihat sepertinya kejujuran saya tidak berarti apa-apa. Dan sepertinya kamu juga tidak suka membahas hal-hal mengenai perasaan. Sampai pada satu titik saya berpikir kamu mungkin tidak ingin diganggu oleh saya lagi walaupun kamu bilang saya tidak mengganggu. Saya tidak ingin berhenti berusaha sebenarnya. Tapi saya tidak bisa kan memaksakan perasaan orang lain terutama kamu harus begini atau begitu.
Saya masih menyukaimu, tentu saja. Kalau ditanya saya rindu atau tidak, saya rindu. Tentu saja. Lancang sekali kan saya. Waktu itu kamu bilang jangan terlalu sedih dan galau karena kita bahkan tidak benar-benar tahu satu sama lain. Saya harap saya juga bisa berhenti. Saya teralih pesonamu sampai lupa diri dan tidak ingin kembali. Tenang saja ini bukan salahmu. Kamu tidak harus peduli. Kamu tidak harus mengerti. Karena ini semua hanya ada di kepala saya. Itu juga jadi alasan mengapa tulisan tiga bagian ini berjudul untuk saya. Saya memang menulis ini semua untuk diri saya sendiri untungnya kamu tidak suka baca namun kalau dibaca olehmu jadi bonus untuk saya. Saya tidak berharap juga sih kamu membaca tulisan ini, saya malu. Tulisan ini terlalu jujur. Rasanya seperti saya tidak tahu diri. Tapi ini satu-satunya cara saya mengungkapkan perasaan saya dengan jujur. Jadi untuk kamu yang tengah malam ini akan bekerja. Semangat yah. Semangat juga puasanya. Terima kasih.

"Ada kejujuran terakhir?" Tanya isi kepala saya.
"Ada".

Saya berharap ini bukan tulisan terakhir tentangmu.

Listening: IDK you yet // Alexander23
(Liriknya sangat relatable :'))


Komentar

Postingan Populer