Untuk Saya pt. 1
Sebuah cerpen
Saya mau hidup dengan mudah tapi saya sadar sekali manusia seperti saya yang punya perasaan super duper complicated begini bakalan jauh dari kata mudah. Bahkan saya sering kali tak mengerti saya ini maunya gimana. Saya kira kejadian yang sudah-sudah akan membuat pikiran dan perasaan saya lebih mudah dicerna, ternyata tidak sama sekali. Kali ini lebih complex, lebih banyak kemungkinan, lebih tak bisa dimengerti. Apa saya terlalu memikirkan perasaan saya?. Jangan kira saya tidak berusaha. Saya berusaha. Sungguh.
Namun masih saja otak dan perasaan tak sejalan tak seirama. Seseorang pernah mengingatkan, "jujurlah nis pada perasaan sendiri".
Saya ingin sekali jujur. Hanya ada dua hasil dari kejujuran, penerimaan dan penolakan. Saya takut akan penolakan saya takut akan sesuatu yang tak berjalan sesuai perencanaan. Kata Papa saya, kita memang tidak pernah bisa mengira-ngira hidup. Ribet bukan?
Saat saya bilang saya ingin hidup mudah. Kira-kira contohnya begini,
Saya ingin ketika saya jatuh cinta saya akan berani dan lantang mengatakannya.
Saya ingin ketika saya sedih saya mengetahui penyebabnya.
Saya ingin ketika saya marah saya tak perlu mengingatnya.
Saya ingin ketika saya bahagia saya lebih bersyukur.
Hanya itu saja sebenernya, andai melaksanakannya semudah membacanya.
Kemarin dia bilang pada saya, "kamu ini perasa yah". Saya menyangkalnya tapi kemudian ketika saya mengingat fakta bahwa saya tipe orang yang mudah menyembunyikan perasaan dari orang lain. Saya mengiyakannya dalam hati. Dengan segala kemungkinan yang ada boleh ga sih saya berharap kita bersama?


Komentar
Posting Komentar